Bukan Realita

Sebelum pertemuan tak disengaja di bawah lembayung senja, kesempatan yang langka. Sudah sekian lama tak berjumpa, ada satu pertanyaan yang selama ini ingin Imanuel ajukan kepada sosok perempuan saat ini di sampingnya. Berkali-kali ia meyakinkan diri mengutarakan pertanyaan itu atau tidak. Sejak lima menit duduk bersama tidak ada satu kata pun terucap bahkan bertegur sapa pun tidak.

"Di, aku mau ngomong?" ucap Imanuel membuka pembicaraan.

Dan seperti biasa Diana merespon dengan kalimat renyahnya. "Mau ngomong apa si ngomong aja ga ada yang ngelarang kan."

Dan hal yang sama dengan Imanuel masih menyukai pembicaraan yang bersifat basa-basi "Iya Di, tapi ini pertanyaan agak sedikit. . ." belum selesai Imanuel melanjutkan bicaranya Diana telah memotongnya. "Langsung ke pointnya aja ya!" pinta Diana.

Mendengar itu, kerongkongan Imanuel mendadak terasa kering "Iya Di." Jawab Imanuel dengan terbata.

"Di, adakah kamu pernah suka sama aku?" begitulah pertanyaan yang terlontar dari bibir Imanuel dengan segala keberaniannya.

Pertanyaan itu cukup membuat Diana terkejut, meskipun begitu ia berusaha tetap biasa saja. "Sebelum aku menjawab aku hendak mengajukan pertanyaan lebih dulu, bagaimana?" tawar Diana dan segera Imanuel menjawab cepat dengan mengangguk pertanda setuju.

"Apakah kamu sangat memerlukan jawaban itu?"

Kembali pertanyaan yang Diana ajukan dengan degera Imanuel menjawabnya "sangat." jawabnya penuh antusias.

Melihat Imanuel sangat antusias seperti itu, Diana tidak ingin melewatkan moment dengan sia-sia sudah saatnya bagi dia berbicara jujur walaupun tetap saja sifat dingin dan jual mahalnya ia nomor satukan, terlihat jelas pada kata yang ia pilih berikut ini:

"Pernah." Jawab Diana dengan pengucapan cepat dan raut wajah yang datar. Berbeda dengan Imanuel yang mendengar kata itu hatinya nyaris copot, perasaannya teramat girang.

"Sekarang?" Imanuel bertanya lagi.

"Adakah hal semacam itu perlu juga aku jelaskan?" lalu sekarang Diana menutupi alibi perasaannya.

"Tidak juga, , ," Ucapnya ragu, matanya ia alihkan menyapu menatap pemandangan indah yang terbentang, dan melanjutkan bertanya "kamu tidak berniat bertanya alasan aku menanyakan itu?"

"Tidak, karena aku sudah menemukan jawabannya sendiri."

"Apa?"

"Kamu hanya ingin tahu bahwa rasa yang pernah kamu ucapkan dulu itu tidak bertepuk sebelah tangan."

Mendengar itu Imanuel tersenyum. "Itu benar, tapi ada hal lain yang sebenarnya lebih ingin aku ketahui dari kamu."

"Apa?" tiba-tiba rasa penasaran berbalik pada Diana.

"Kenapa kamu sembunyikan itu? maksudku. . . kamu juga tahu kan aku banyak mempunyai hubungan pertemanan seperti aku dan kamu yang tidak bisa aku tebak rasa yang kamu punya terhadapku, setelah hari itu aku mengutarakan perasaanku karena hingga sekarang kamu masih baik terhadapku dan tak menghindariku."

Dalam hati "Apa untungnya kamu bertanya seperti itu?"

Ah sial itu hanya khayalan belaka mana mungkin akan ada perbincangan seperti itu, karena di antara mereka tidak mungkin lagi berdiskusi tentang hal itu. Meskipun tetap saja keduanya berharap bisa mengungkapkan secara jujur atau kurang lebihnya seperti khayalan itu. Apakah keduanya masih berani mengungkapkan perasaan yang mereka miliki kali kedua untuk kesempatan kedua yang sekarang mereka punya? Sudah lima menit perjumpaan mereka tak sepatah katapun terucap.


1 Komentar