Fenomena Kelangkaan Minyak Goreng



Minyak goreng menjadi kebutuhan pokok bagi rakyat Indonesia di masa pandemi seperti sekarang, tidak mungkin jika terlebih para ibu-ibu yang tak menginginkan minyak goreng, setiap hari mereka memasak apapun menggunakan minyak goreng, ibarat minyak goreng ini objek vital yang dibutuhkan sehari-hari layaknya air yang mengalir.
Kita ketahui di televisi fenomena minyak goreng yang mana harganya dari bulan ke bulan mengalami kenaikan seiring dengan kasus covid-19 yang belum juga mereda. Para ibu yang menyaksikan hal tersebut pasti merasakan kesedihan yang mendalam karena kenaikan harga tersebut bagaikan mencekik kehidupan mereka.
Adapula yang membuat kita turut prihatin karena masyarakat rela mengantre untuk mendapatkan minyak goreng curah. Mereka sudah tidak menghiraukan protokol kesehatan dan keselamatan diri sendiri, sungguh memprihatinkan. Kita tahu sendiri bahwa minyak goreng curah itu tidak baik untuk kesehatan karena mengandung bahan yang berbahaya.
Ditambah lagi, yang mengantre bukan hanya para ibu, tapi juga para lansia yang sudah tua, apa dibenarkan jika mereka mengantre dengan antrean yang sebegitu banyaknya, terkadang juga warga kalangan mampu pun dengan sengaja ikut-ikutan mengantre, ironis memang. Fenomena ini bagaikan makan buah simalakama yang mana pemerintah seperti kurang peduli dengan kesejahteraan masyarakat Indonesia terutama bagi usia lanjut seperti yang telah dijelaskan di atas.
Kita pun juga tidak tahu apakah minyak goreng yang disiapkan untuk masyarakat itu benar-benar steril, telah lulus uji BPOM, bahkan di zaman serba sulit seperti sekarang ini apapun bisa saja dipalsukan termasuk minyak goreng yang selalu dinantikan masyarakat. Ada banyak sekali oknum yang mengatasnamakan pemerintah untuk meraup keuntungan berlebih dari fenomena ini.
Peran pemerintah justru dipertanyakan di sini, mereka yang katanya pengayom masyarakat bahkan membiarkan fenomena mengantre minyak goreng makin merajalela hampir di seluruh Indonesia. Masyarakat telah mati rasa dengan harga yang dirasa melambung tinggi demi mendapatkan minyak goreng tersebut untuk keperluan sehari-hari.
Mau harga minyak goreng itu murah ataupun mahal sekalipun, yang dinamakan kebutuhan tetaplah sebuah kata ‘butuh’ yang harus dipenuhi oleh masyarakat yang kini merebak luas hingga ke penjuru dunia. Eksistensi pemerintah terutama Presiden Joko Widodo bagaikan menguap tanpa bekas, janji-janji manisnya hanya dongeng untuk kalangan jelata.
Sebenarnya, fenomena seperti ini tidak akan terjadi manakala pemerintah dengan ikhlas menggelontorkan dana khusus pembelian minyak goreng untuk seluruh warga, seperti yang diketahui bersama bahwa Indonesia pun salah satu pemasok kelapa sawit yang berada di ujung Indonesia yaitu Aceh. Harusnya pemerintah lebih mawas diri untuk memproduksi lebih banyak minyak goreng yang berkualitas dan menyehatkan agar dapat dikonsumsi oleh warga sehari-hari.
Entah sampai kapan fenomena ini akan berlanjut, yang pasti masyarakat Indonesia selalu membutuhkan minyak goreng sebagai keperluan sehari-hari mau itu harganya mahal hingga murah sekalipun, dan juga pemerintah dan para pembesar membudayakan antre dengan baik kepada masyarakat serta kita harus kembali kepada sistem perekonomian Islam karena hanya dengan sistem inilah segala proses jual beli ataupun produksi masyarakat dapat berjalan lancar, amanah, dan tertib sesuai dengan ajaran Islam seperti pada zaman Rasulullah Saw.

#viral#migorlangka#
 

0 Komentar